Selasa, 27 Agustus 2013

Masjid Asabri Baitul Halim

Aku bekerja di PT. Caraka Yasa, daerah TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Dengan jarak lokasi kantorku dengan rumahku yang berada di Duren Sawit, Jakarta Timur. Memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sehingga kalau aku masih berada di kantor saat jam 17.45 waktunya jam keluar kantor tentu mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan pulang ke rumah, menunggu saat adzan Maghrib tiba dan menyempatkan shalat di Mushalla kantor.

"Allahu Akbar,, Allahu Akbar"

Saat itu adzan Maghrib terdengar dengan lantang oleh muadzin di salah satu Masjid. Posisi aku sedang berada di jalan, kebetulan kalau rute pulang kantor selalu melewati PGC ( Pusat Grosir Celilitan ), tidak jauh dari PGC maka aku berhenti sesaat melihat ke arah kiri Gedung Kantor Asabri, di sana aku lihat megah dan gemerlap indahnya ke-Agung-an rumah Allah.

Terlintas dalam angan ingin sekali mampir dan shalat di sana, namun setelah beberapa kali lewat, aku bingung mau masuk ke masjid itu lewat jalan mana, sedangkan di sebelah gedung kantor Asabri tidak terlihat jalan masuk ke perumahan yang ada di sekitar. 

Waktu itu aku pulang bareng mba Wita, yang kebetulan suaminya terbiasa menunggu di Wika Cawang. Jadi kami niatkan sekali untuk mampir ke Masjid yang kami idam - idamkan. Alhasil, sekitar luar gedung kantor Asabri, ada sebuah warung kecil dan kami menanyakan bagaimana kami bisa shalat di Masjid itu. Ternyata aku dan mba Wita baru tau kalau Masjid yang megah dan gemerlap itu ada di dalam kantor Asabri. Lalu kami masuk ke wilayah kantor, dan yang kami acungi jempol, security di kantor itu ramah - ramah, jadi kami dengan mudahnya masuk ke Masjid.


"Subhanallah,,, Masjid Asabri Baitul Halim"

Aku berbicara pelan melihat tulisan di depan Masjid indah ini, akhirnya bisa juga masuk dan shalat di dalam Masjid. Tempat wudhu ada di luar dekat bedug yang besar, ada juga di dalam dan tersedia toiletnya.



Setelah masuk di dalam Masjid, maka aku terbelalak oleh ukiran hijab dengan tulisan Asmaul Husna, "Subhanallah", memang di Masjid ini banyak pujian kepada Allah dan memang pantas. Apalagi di Mekkah yah ^_^ *semoga bisa ke sana menjadi tamu-Mu ya Allah* ---Amiiin---





Sekarang aku hanya ingin mampir kalau bulan Ramadhan, tapi belum pernah sempat karena mengharuskan menyiapkan ta'jil pada bulan Ramadhan di kantor ^_^...

Rabu, 21 Agustus 2013

2 Hari Berturut - Turut di Traktir Euy ... ^_^ ...


20.08.13

Dengan senangnya kupikir pagi itu karena membawa bekal tanpa membeli lagi makan siang ataupun lauk nanti. Makan siang aku berbekal nasi dan sayur ikan bumbu asam masakan ibuku. Mulai dari jam 08.00 aku bekerja dengan semangat, dan kulalui dengan tanpa rasa yang gimana, gimana, hehee...

Tidak di sangka siang itu ada yang membawakan Bakmi GM ( Mie Ayam ) buat seruangan juga, untuk pak Firman, mba Mery, pak Hary Cahyo, pak Naryo dan alhasil 2 porsi makanan siang itu ku habiskan, karena tidak mungkin kalau aku bawa pulang ke rumah.

Alhamdulillah, asiiik...
Memang rezeki...

21.08.13

Ternyata dua hari berturut - turut ada yang berniat baik untuk menraktir lagi kebetulan kali ini boss aku sendiri yang lagi baikkk banget...

Kami makan di Soto Betawi, hmmm kuliner asli makanan khas Betawi yang enakkk banget. Aku, pak Firman, juga pak Naryo memesan Soto Daging dengan kuah santan kental, sedangkan mas Rebo memesan Soto Kikil dan pak Hary memesan Sop Iga... Lengkap dengan 4 es jeruk dan 1 es teh tawar ditambah dengan 2 piring nasi lagi, aku berdua dengan pak Firman dan pak Naryo dengan pak Hary, membuat perut kami kekenyangan ^_^...

Tidak lupa untuk mba Mery,, bungkus 1 Gado - Gado...

Hayooo siapa lagi yang mau nraktir niih...

Ini namanya rezeki, Alhamdulillah terimakasih ya Allah ^_^...

Senin, 12 Agustus 2013

Hang Around - It's Crazy ^_^

09.08.13

Pada hari Jum'at, seorang teman menghubungiku untuk mengajakku jalan - jalan, mba Rian namanya, ia teman di kantorku, pertengahan tahun 2012 ia resign dan pindah kerja, walaupun kami sering bertemu hanya waktu arisan, namun lebaran kali ini ia mengajakku untuk nonton ke Bioskop atau mengunjungi kota Bandung. Aku fikir di hari libur setelah lebaran menyenangkan, namun berhubung aku dan keluarga hari Sabtu silaturrahim, maka niatku jalan - jalan langsung ku rubah, "kalau hari minggu aku bisa mba", jawabku. Apalagi ke Bandung, wiih ga' kebayang pasti macet. Aku bilang "kalau ke Bandung, bulan depan aja".. Hehehe, maklum sekaligus nunggu budget yang berlebih untuk ke kota yang satu itu membeli oleh - oleh sekaligus.

11.08.13

Mba Rian, kembali mengingatkanku bahwa aku tidak lupa akan jadwal hari Minggu yang cerah. Saat mau berangkat kebetulan adikku (Reska) yang saat itu mau pergi berangkat reuni di Seven Eleven bersama teman - temannya, maka kamipun berangkat bareng dari rumah dan kuturunkan di SeVel Pondok Kelapa. Dan kulanjutkan perjalananku ke Mall Graha Cijantung, sesampainya di sana, kukabari mba Rian kalau aku sudah sampai, dengan membeli segelas Nutri Sari memberikanku rasa segar yang luar biasa di siang hari yang terik. Tidak lama, mba Rian pun datang, dan kami melihat pintu bioskop Cijantung 21 masih tutup baru di buka jam 11.45, alhasil kami menunggu sebentar bersama para penonton lainnya dan kebanyakan anak - anak kecil.

Setelah masuk, berebutlah untuk mengantri di barisan dan membeli 2 tiket film "La Tahzan", film yang saat ini kami ingin sekali menontonnya, karena ku fikir ini moment lebaran (Islami)..



L.A - T.A.H.Z.A.N (resensi)
Film yang dibintangi Joe Taslim, Atiqah Hasiholan & Ario Bayu
Viona (Atiqah Hasiholan) sudah berteman lama dengan Hasan (Ario Bayu). Viona yang asik mengikuti kursus bahasa Jepang dengan serius belajar dan mempraktekkannya. Pada saat ulang tahun Viona, Hasan bertemu Viona di sebuah restoran lalu diberikan hadiah oleh Hasan sebuah buku diary.

Hasan yang sudah bekerja di sebuah bengkel miliknya sendiri menanggung hutang untuk rawat inap ibunya hingga ratusan juta rupiah. Pada saat di restoran bersama Viona, adiknya Hasan menelpon dan mengabari kalau ibu Hasan sakit. Akhirnya mereka pulang. Setelah melihat kondisi Ibu Hasan, Viona pun tidak segan - segan memijit tangan ibunya. Hasan yang saat itu menerima telpon dari temannya segera pergi ke Apotek untuk membeli obat. Ibunya mengingatkan kalau Viona dan Hasan mempunyai cita - cita ingin pergi dan bekerja sama - sama ke Jepang.

Sesampai di rumah, adik Hasan mengabari Viona kalau Hasan tidak pulang setelah ke Apotek karena kabar buruk dari rentenir yang datang ke Bengkel, Hasan tidak memberi tau ke keluarga dengan kondisinya. Namun dengan dadakan ia berniat ke Jepang. Ia pun tidak mengabari Viona karena tidak mau khawatir. Saat bertemu ibu Hasan, Viona di berikan alamat tempat Hasan tinggal.

Beruntung di tempat kursus bahasa Jepang, Viona di tawari Arubaito, yaitu belajar sambil bekerja. Orang tua Viona sebenarnya khawatir ia ke negeri Sakura, namun dengan support kedua orang tuanya, Viona yakin bisa menghidupi biayanya selama ia tinggal disana, walaupun ayahnya hanya bisa membelikan tiket penerbangan dan biaya hidup selama 3 bulan di Jepang. Setibanya Viona dan teman - temannya di bandara Kansai, Osaka mereka tinggal di sebuah rumah susun yang cukup untuk ditempati. Tidak lama mereka pun dapat pekerjaan.

Awal Viona bekerja, ia buru - buru karena sudah terlambat, saat ia menaiki sepeda, ia tidak sadar menabrak sebuah gerobrak hingga jatuh. Dan ada seorang lelaki yang menolongnya dan menanyakan mau ke mana, Viona menyebutkan sebuah tempat. Sesampainya di sana, ia kena marah oleh pemilik restoran Jepang tersebut, kalau satu pelayan telat maka yang lalai pun terbengkalai sampai pembeli pun ikut ribet. Segera Viona memakai pakaiannya di belakang. Tak lama, Yamada (Joe Taslim) seseorang yang menolong Viona tadi di jalan langsung mendatangi restoran tersebut untuk bertemu Viona sekedar berbicara dan memberikan kartu nama tanpa memesan satu pun menu disana.

Yamada mengajak bertemu Viona dan Viona pun meminta tolong untuk mengantarkan ke rumah tempat Hasan tinggal, dan ternyata Hasan sudah pindah. Setelah ditelusuri lewat FB dari info teman dekat Hasan, Yamada berniat untuk mengantar Viona ke tempat dimana Hasan berfoto.

Setelah di cari, ternyata ada salah seorang ibu yang mengenal Hasan dan memberikan kartu nama Hasan yang bekerja sebagai cleaning service. Viona tidak sungkan untuk menelpon Hasan melalui Yamada yang berpura - pura mencari cleaning service di tempat ia bekerja, mereka janjian bertemu di salah satu kota di Jepang. Saat Hasan menelpon Yamada, tidak disangka Hasan melihat Viona berdiri di depannya. Dengan rasa kaget, Hasan pergi meninggalkan Viona begitu saja hingga Viona mengikuti langkah Hasan pergi dan meninggalkan Viona sendiri, Yamada pun mengikuti Viona yang ternyata sudah kehilangan jejak Hasan.

Semakin lama dengan berkenalan Viona & Yamada, mereka semakin dekat sampai Yamada keturunan Indonesia dan Jepang mengenalkan kedua orang tuanya dan mengajak ke rumah dan kebun jeruk Yamada. Saat di kebun, Viona memetik satu buah jeruk untuk dimakan, ternyata kecut. Yamada mengucapkan "Orenji" -tidak semua yang luarnya bagus isinya bagus, bisa manis bisa kecut", setelah itu mereka mampir di sebuah bangunan kecil yang dianggap sebagai tempat ibadah bagi keyakinan Yamada, tidak disangka do'a yang dipanjatkan Yamada berniat untuk menikahi Viona.

Setelah kembali dari rumah Yamada, mereka dikejutkan oleh Hasan yang menunggu di tikungan jalan. Akhirnya Yamada berpamitan dan Viona segera kembali ke rumah diikuti oleh Hasan, Viona yang saat itu marah dan Hasan pun mengerti.

Hasan yang kaget mendengar kabar kalau Yamada ingin menikahi Viona, ia pun mengucapkan selamat. Dengan pesan kalau Viona harus meyakinkan Yamada pindah agama Islam. Viona lalu menelpon Yamada memastikan kalau dalam agama Islam tidak boleh menikah dengan orang yang berbeda agama. Maka Yamada meminta "tolong ajarkan saya Islam". Bahagianya mereka sampai Viona mengantarkan ke Masjid untuk belajar Islam dan menjadi mualaf. Namun sebelum berangkat ke Masjid yang kedua kalinya, teman Viona menelpon kalau Hasan meninggalkan sesuatu di depan pintu dan Viona segera kembali. Ternyata setelah di buka, isi kotak tersebut adalah cincin yang selama ini Viona mau saat ia ucapkan pada saat ulangtahun.

Isinya terlihat oleh Yamada. Mereka berbicara di luar dan Yamada meminta maaf kalau mempermainkan agama seandainya ia menjadi mualaf dan menikah dengan Viona. Yamada merasa bukan lelaki yang terbaik untuk Viona, dan Viona pun meninggalkan Yamada. Ia pergi ke pelabuhan menemui Hasan yang menunggunya. Hasan lalu menjelaskan masalah kenapa ia sampai ke Jepang tanpa mengajak Viona dan Viona juga menjelaskan kenapa ia ke Jepang. Mereka bahagia dan Hasan menginginkan kelak setelah berkeluarga ingin menjadikan Viona ibu bagi anak - anaknya.

Hmmm...
Sungguh film La Tahzan yang membuatku kembali dengan harapan Aa' Agung yang sama.
Dalam hati, semoga kami dapat terus bersama sampai nanti kami melangkah demi masa depan
Bahagianya ^_^...


Sehabis nonton, aku dan mba Rian pergi makan di Pecel Lele Lela, di Jl. TB. Simatupang kebetulan dekat kantorku di PT. Caraka Yasa. Alhamdulillah, di traktir mba Rian... Thanks ya mba... ^_^

Setelah kami makan, kami meniatkan pergi ke Grand Indonesia, Thamrin. Kami berfoto - foto di sana





Dengan melihat - lihat seisi Grand Indonesia, ada salah satu tempat yang ingin kami kunjungi dan cicipi kelezatannya, kalian tau?

Yaa, Magnum Cafe, tempat ini selalu saja waiting list untuk mengantri kalau mau masuk ke dalam, lumayan ada setengah jam kami menunggu di depan pintu. Mungkin memang seperti itu kalau pelanggan tidak mau pergi, jadi harus sabar dengan kuat juga kalau kaki harus berdiri dan setelah masuk dan memesan sampai mencicipi tidak ada rasa penyesalan bagi kami merasakannya. Kamipun cukup puas dengan pelayanan, harga dan apa yang kami santap, delicious, nikmat sekali ice cream Magnum-nya. Ngomong - ngomong, walaupun ke tempat ini, aku tidak cukup membawa uang, mba Rian yang saat itu dengan baik meminjamkan uang padaku untuk bisa mencicipi ice cream Magnum dengan menu yang berbeda.. Hmmm Nyummy... ^_^...









Setelah kami puas, selama seharian. Tidak lupa juga mba Rian yang saat itu membawa BB, dengan spontannya memfoto Bundaran HI pada malam hari dengan sikap yang cepat sampai kami harus di klakson mobil untuk cepat - cepat jalan dan meninggalkan tempat itu, kalau kami berhenti, pak Polisi pun sudah siap menerkam kami, xixixi kata mba Rian "It's Crazy"



@henny_1109
@rianafebrian

Selasa, 23 Juli 2013

Ayah Tercinta

Cerita ini mengingatkan kenanganku pada Ramadhan 1426 H, di saat itu alm. Ayahku masih ada.

Ayahku, lahir 20 Januari 1960. Beliau anak pertama dari 6 bersaudara. Seorang Ayah dari 3 orang anak perempuan. Beliau dikenal pintar dan lucu. Ibu yang pernah bercerita, terkesan karena lelucon yang Ayah lontarkan pada saat masih berkenalan. Begitu juga di kalangan teman - temannya. Ayah pencetus perkumpulan arisan alumni SMA seangkatan yang berada di Jakarta, jadi kalau setiap bulan, Ayah selalu menghadiri acara arisan yang diadakan.

Ayah yang baru melanjutkan pendidikan kuliah Sarjana di Fakultas Hukum, Universitas Tujuh Belas Agustus di Tanjung Priok tahun 2003, sudah memasuki semester 6 pada tahun 2005. Niat mulianya untuk meneruskan pendidikan yang beda 1 tahun setelah aku, tahun 2002, ingin sekali yang menghadiri wisudanya nanti adalah kami sekeluarga.

Ayahku seorang pegawai negeri, sejak muda beliau memang sudah merokok. Dan almh. Nenek ( ibu dari ayah ) memang punya riwayat sakit Liver ( kanker hati ), kondisi yang tidak terduga ayahku pada awal tahun 2005 hingga pertengahan masih terlihat bugar dan sehat, bahkan aku ingat saat kami masih masih merayakan pergantian tahun 2004/2005 di luar kota, Puncak, Bogor. Keseharian beliau memang dianggap jarang sakit, dengan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga, beliau rela bekerja hingga larut malam bisnis dengan temannya. Ibu di rumah sangat khawatir dengan kondisi ayah, karena kalau terlalu capek pasti akan sakit. Bahkan harus ke luar kota.

Kekhawatiran ibu terhadap Ayah, ternyata terjadi. Ayah yang mulai terlihat tidak fit, merasa di bagian perutnya sakit dan mual. Sesekali mengeluh karena penciumannya terganggu. Sampai kebiasaannya merokok yang sudah dari muda, dihentikan karena membuatnya semakin tersiksa. Semakin lama, hari berlalu beliau memutuskan berobat setelah merasa badannya tidak enak, beliau tidak pernah check up. Jadi setelah memeriksakan di salah satu klinik terdekat dengan rumah, Ayah hanya di duga sakit maag. Semakin hari keadaan Ayah semakin kurang baik, walaupun pada saat itu masih tetap masuk kerja.

Kondisi Ayah yang di haruskan untuk check up, dokter di Rumah Sakit Persahabatan memvonis Ayah sakit liver stadium 4 dengan kondisi paru - paru yang juga sakit. Pengobatan tidak hanya saja di Rumah Sakit, di pengobatan Shinsei pun beliau coba. Walaupun paru - parunya yang sembuh total, namun tidak kuat untuk obat - obat tradisional, maka memutuskan di rumah tanpa berobat.

Tahun 2005, tepatnya tanggal 3 Oktober s/d 2 November 2005 bulan Ramadhan yang berkah hadir dalam suasana duka keluarga kami, melihat kondisi Ayah yang masih merasa kuat untuk puasa 1 bulan penuh dan Shalat 5 waktunya rajin sampai Shalat Terawih masih bisa ke Masjid walaupun tanpa Shalat witir. Subhanallah melihat perjuangan beliau. Sampai pada saat akhir Ramadhan, Ayah masih tetap bertahan dan melihat kondisinya masih terlihat kuat untuk shalat Ied bersama, dan setelah kembali ke rumah, kami merasa bersyukur Ayah masih terlihat kuat dan sehat. 

25 Januari 2006, aku yang saat itu masih di perjalanan pulang kuliah, mendapatkan SMS dari Ayah, mengabarkan kalau beliau sudah masuk Rumah Sakit Dharmais. Aku sedih mendengar kabar saat itu. Hanya 2 minggu saja aku dapat menjaganya di Rumah Sakit, setelahnya baru ibu yang menjaga Ayah karena aku ada urusan kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Kondisi Ayah makin hari semakin parah dan tindakan terakhir yang dilakukan dokter jalan satu - satunya Ayah di tawarkan untuk kemoterapi. Dokter menyarankan untuk pulang ke rumah, karena lebih baik di rawat di rumah saja. 

Tepat seminggu, pada hari Jum'at tanggal 3 Maret 2006, Ayah menghembuskan nafas terakhir. Ayah meninggalkan kami dengan begitu cepatnya. Namun yang kami kagumi, dengan kondisi ibadah beliau di bulan Ramadhan 1426 H adalah kenangan terakhir bagi kami dalam kebersamaan dengan Ayah tercinta.

Ayah...
Kami rindu akan senyummu...

Ya Allah...
Tempatkanlah ia di syurga-Mu...

- Always Love You, Ayah -




Sabtu, 28 Juli 2012

Digigit Tikus, Burungku 2 Mati




Saat almarhum bapakku masih ada, beliau sayang sekali denganku, apapun yang aku minta selalu dibelikannya.

Aku masih sekolah SMPN, dengan gaya anak - anak yang ingin mengetahui apa saja...

Suatu saat kami hanya berdua jalan - jalan sore hanya untuk menemeni beliau ke luar rumah untuk membeli roti bakar kegemarannya. Saat menikmati dan menyantap roti bakar dengan selai kacang kesukaannya dan kopi hitam, mata ini tak lepas dari pandangan sebuah toko makanan hewan di seberang warung kopi ini. Permintaanku tidak seperti biasanya, karena memang sebenarnya aku tidak biasa memelihara hewan di rumah, hanya adikku yang pernah merawat ikan sampai ikan itu mati sendiri karena usia. Almarhum bapak memperhatikan ke arah aku memandangi 2 ekor burung yang cantik, aku ingat betul warnanya perpaduan dari hijau dan kuning, setelah kami makan roti bakar dan menyudahi minum kopi juga teh yang aku pesan, bapak langsung menyebrang tanpa pikir panjang ke tempat toko makanan hewan tersebut. Aku pun segera menyusul... "Waah, cantik pak yang ini burungnya", "kenapa, kamu suka nduk?!" kata bapakku. "Iya, pak, beli yang ini yaa, nanti kalau sudah besar pasti tambah bagus warnanya" bujukku, dengan tanpa banyak alasan maka bapakku membelikanku 2 burung itu dengan makanannya. "Makasih pak, Henny suka banget sama warnanya..."

Sesampai di rumah, ibuku bertanya "siapa yang membeli burung? Memang bisa merawatnya?", "Ini yang beli Henny, bu,,, Henny suka banget sama warna burung ini, kandang burung yang bekas masih bisa kan?!" tanyaku pada ibu karena kami pernah merawat burung sebelumnya dan entah kemana burung - burung itu.

Dengan lincahnya burung - burung yang kubeli loncat ke sana ke mari, entah memang burung ini belum terbiasa dengan tempatnya atau karena ingin bebas.

Kutinggal saja di lantai atas rumahku karena kandang burung terhias di sana. Semalam suntuk aku tidak bisa tidur merasakan bagaimana burung itu bisa diam karena merasa nyaman denganku.

Paginya, aku kaget saat ibu berteriak "Henn, burungnya mati", aku sedih sekali melihat burungku mati tak berdaya, kelelahan atauuu... "Itu karena ada tikus semalem, pasti digigit tikus" ibuku berteriak.

"Yaaah, gimana donk" aku berteriak karena ibuku ada di bawah dan bapak diam saja karena hanya ingin membelikan untukku, "ya sudah aku kubur saja di tumpukkan pasir yang ada di sini" ucapku dalam hati.

Renungan : Amanah, aku tau tentang hak hidup dari seekor makhluk hidup, tapi aku tidak tau saat itu bagaimana caranya makhluk kecil tidak berdosa itu harus bertahan hidup, karena lepas dari pengawasanku dan burung - burung itu mati begitu saja tanpa aku tau penyebabnya, kasihan juga. Turut berduka cita...

Rabu, 25 Juli 2012

Topeng Angkot





Di perpustakaan ku duduk terdiam dalam lamunanku saat ingat pagi tadi berangkat ke sekolah, lalu ku mencoba mengingat apakah ada PR untuk hari ini yang membuat serasa lama sekali di dalam Angkot C01. Dengan cepatnya Dina sahabatku membuyarkan lamunanku "Hei! Bengong aja, mikirin apaan sih kamu ini?! Niiih, aku dah selesaiin PR matematika dari hal 35 - 37 BAB 5", sambil menyodorkan buku PR ke arahku. "Makasih cinta, kamu baiiik banget, yuk balik ke kelas", ucapku. "Tunggu Anggiii..." teriak Dina kepadaku.
"Siapa cepat dia dapat bangku paling depan, asiiiik... bisa lihat pak Daniel yang keren itu" teriakku sambil menuju tempat yang ku inginkan.

Teeeeettttt....

Bel sudah berbunyi dan tak lama pak Daniel pun setelah menaruh tasnya di kursi, lalu dengan cepat mengambil posisi di depan. "Ayo, kalian yang sudah menyelesaikan PR harap mengumpulkan di meja, siapa yang sudah?". Dengan energi yang tersisa pagi ini, aku pun mengumpulkannya, lalu pak Daniel menanyakanku, "PR kamu sudah selesai Anggi...?", "sudah pak" sahutku, sabar banget nih guru , ucapku dalam hati. "Bagus Anggi, kamu memang pintar. Baik, sekarang catat PR selanjutnya ya! Coba lihat halaman 39 - 42 BAB 6". Aku menghampiri pak Daniel lagi, "pak, kami ingin les dengan bapak, apakah bapak bisa membantu saya dan Dina kapan bapak bisanya" tanyaku. "Tidak apa - apa kalau kalian mau ke rumah untuk belajar, di rumah ada ibu saya kok, nanti kalian ku kenalkan, jangan sungkan - sungkan ya"

Pelajaran demi pelajaran berlalu, jam 3 sore sudah waktunya pulang. Di jalan waktu memberhentikan angkot  memang sudah sepi, tidak ada penumpang lainnya. Tidak jauh berapa meter angkot tersebut berganti supir dengan membekali uang Rp. 30.000,- supir yang pertama turun dari Angkot. Tidak lama, supir angkot yang ke dua ini pun berbelok arah dan memberhentikan mikrolet, kenapa nih si mobil, pake berenti segala, ucapku dalam hati. Dengan cepatnya supir angkot malah ingin masuk dan dengan cepat dia mencekikku, seketika itu aku berteriak sekencang - kencangnya "Tolooooooongggg!!!!!", tiba - tiba ada pak Daniel yang turun dari motor dengan cepatnya menolongku, tapi dengan kelihaian supir angkot itupun keluar dari mikrolet  berusaha melawan pak Daniel, saat mereka berkelahi aku segera menghubungi Dina untuk segera lapor ke polisi "Din, Dina,,, Din,,, tolongin aku sama pak Daniel di sini, cepetan panggilin polisi ke warung sate dengan belokan, cepetan Din, cepeetan ya!!!". 2 menit kemudian terdengar suara sirene polisi dan dengan cepatnya supir angkot itu mengeluarkan pisau lipat tanpa sepengetahuan kami, dan menusuk perut pak Daniel. "YA ALLAH, PAK DANIEEELLL...!!! teriakku. Dua orang polisi langsung mengejar dan dalam waktu singkat mereka menangkap supir itu.


Di ruang ICU...

"Pak Daniel, hiks, hiks..." ucapku lirih. "Sabar Anggi, pak Daniel lagi dalam pertolongan medis" Dina menenangkanku.

Sesaat kemudian suster mengabari kalau pak Daniel tidak selamat. "Maaf, ada dari pihak keluarga?", "Iya, tadi sudah dihubungi masih di jalan, saya muridnya sus, bagaimana keadaan pak Daniel". "Pak Daniel tidak selamat, ia meninggal saat dalam pertolongan tadi karena luka tusuknya yang terlalu dalam", seketika itu tangisanku tak dapat terbendung, rasanya sedih karena kepergiannya yang sangat cepat apalagi karena menolongku tadi.

"Maaf mba Anggi, pelaku tadi sudah kami mintai keterangan, mba juga harus segera memberikan penjelasan untuk kami telusuri kejahatan ini dan saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya guru mba Anggi" ucap salah satu polisi. "Iya pak, saya bersedia memberikan keterangan".

"Ternyata, kita ngga' bisa ke rumah pak Daniel untuk belajar ya Din?! Kita ke rumahnya untuk ta'ziah" obrolanku dengan Dina.

- Cerpen -

Sabtu, 21 Juli 2012

Situ Gunung

Berawal dari teman yang sudah lama tidak bertemu, Heny Hartini kirim wall yang ujung - ujungnya jadi kepengen banget aku ikutan jalan...


Hari itu juga aku di invite untuk masuk di group komunitas Taveller Kaskus oleh Henny (thanks yaa...), komunitas yang terdiri dari banyak orang yang memang hobby-nya jalan - jalan / nge-Trip / Backpacker sebutannya...


Walaupun terbilang baru, ternyata Traveller Kaskus mengundang untuk acara "Situ Gunung Rawk!! Santai sebelum Ramadhan", sebelumnya bimbang untuk ikut ke Situ Gunung atau ke rumah Dewi teman SD yang ingin sekali belajar merajut, tapi berhubung Dewi temanku sakit, alhasil rencananya batal. Karena mendadak, aku menghubungi Heny temanku apakah masih bisa aku ikut, karena sudah tanggal 12 Juli 2012 sedang acaranya 14 - 15 Juli 2012. Ternyata info dari Heny masih bisa.




14 Juli 2012


Meeting point jam 09.00 pagi di Stasiun Bogor, waktu itu bertemu Jarvik dan David yang sudah datang di Dunkin Donuts, tidak lama kami pun keluar dari area stasiun karena David lapar dan bingung mau makan apa, akhirnya ujung - ujungnya mampir ke Warung Padang, kalau tidak salah namanya "Trio".


Setelah kembali ke stasiun seperti rencana semula, kami bertemu dengan Heny, Mba Uci, Tuting, Jayeng dan Itd melanjutkan rencana belanja di Super Indo, setelah berkeliling membeli cemilan, minum, cumi, sosis, dsb kamipun berniat untuk makan siang dulu di warteg. Sambil menunggu teman yang menyusul akan datang ke tempat kami makan, yaitu Kadal, Husain, dan Dedy.

Setelah kami makan siang untuk mengganjal rasa lapar, kami berniat untuk menyewa angkot mikrolet ke arah Situ Gunung, Sukabumi.

Mba Uci, Aku, mas Dedy, Heny, David, Jayeng dan Tuting

Akhirnya kami dapat juga sewa Angkot dengan budget 250ribu, dengan muatan 11 orang kamipun berangkaaaaattttt...

Selama perjalanan kurang lebih 5 jam dengan jalan yang terkadang macet terhalang oleh beberapa truck yang juga melewati jalan itu. Sampai kami mengalami keram yang tidak segan - segan untuk meluruskan kaki atau menungging demi menghilangkannya, hahaa sangat luar biasa perjalanan kami...

Setelah sampai di seberang Villa tanpa Nama, kami masuk ke salah satunya memang hanya kami yang menginap di sana.

Tidak lama dengan persiapan makan malam, beberapa dari temanku yang sukarela untuk membakar cumi atau ikan, di temani dengan keramaian canda tawa dan juga permainan UNO, hahaa, kalau mengingat permainan ini pasti canda tawa menghiasi langkah perjalanan kami. Seingatku sampai jam 2 malam kami masih bermain, aku, mba Evi, mba Uci, Kadal, Husain, mas Dedy menggantikan Heny. Ternyata sampai jam setengah 4 masih ada yang bertahan, mba Uci, Kadal, Husain dan mas Dedy, hahaa, entahlah siapa yang menang dan kalah tidak menjadi acuan hanya kegembiraan yang mewarnai malam menjelang pagi untukku...


15 Juli 2012

Jam 4 pagi aku terbangun karena kami akan ke Danau Situ Gunung, karena masih terlalu pagi maka, sebagian tidur kembali sampai subuh tiba, setelah sholat Subuh, aku, Jarvik, Tating dan Itd menuju ke Danau.


Sampai juga kami ke Danau Situ Gunung, waaaahhh!! Udaranya sejuk dan pemandangannya sangat indah. Yang memang hobby foto, sangat bagus untuk di jepret nih, xixixi...

Aku dan Tuting sempat berjalan ke sebelah barat dengan nuansa yang berbeda 

Gelap yaah, maklum kamera HP

Ada tulisannya nih, Situ Gunung

Setelah kembali karena berniat mencari Itd yang kami fikir ada di sini, maka kami kembali dan sempat berfoto lagi...

Seperti inilah hasil jepretan dari kamera DSLR :

Aku dan Tuting

Tuting




Ini hasil foto bersama yang ke Danau pagi itu untuk melihat Sunrise :


David, Itd, Arif, Jarvik, Tuting dan Aku


Pagi yang cerah, sampai di villa kamipun sarapan pagi dan ternyata chef kita mas Dedy masih dengan kipasannya untuk membakar ikan, waah, makanan yang disuguhkan untuk kami pun terasa sangat berkesan, buanyaakkk.


Sampai siang kami pun harus beberes dan menyiapkan perjalanan untuk pulang, sampai di jalan besar kami menyewa bobil kol dengan tarif 15ribu per orang sampai Baranangsiang... Tapi aku, Heny, mba Uci, Itd, Jayeng dan David berpisah untuk kembali ke stasiun Bogor. Kamipun berpisah di masing - masing stasiun yang berbeda, karena sempat tertidur, waktu mba Uci turun di stasiun Depok aku tidak melihat, Itd yang turun di Stasiun Pasar Minggu dan aku turun di Stasiun Tebet.

Kembali ke rumah masing - masing dan menjalani aktifitas seperti semula, kangen mau jalan bareng lagi dengan Traveller Kaskus, thanks yaa perjalanan awal yang memuaskan...

...Salam Travel...